Tampilkan postingan dengan label routing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label routing. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Agustus 2012

Perbedaan Hub, Switch, dan Router

 Perbedaan Hub, Switch, dan Router


Dilihat secara fungsi antara hub dan switch ada persamaan yaitu sama mengantarkan paket data dari sumber ke tujuan dalam jaringan komputer. Akan tetapi kalau dilihat secara konseptual tentulah berbeda. masing-masing mempunyai kemampuan yang berbeda baik dari segi kecepatan maupun dari sisi sitem kerjanya.

Di dalam hub tidak ada proses apa-apa dalam menangani traffic jaringan. Hub hanya mengulang sinyal yang masuk ke seluruh port yang ada pada hub tersebut. Ini akan sangat berbeda dengan switch, di dalam switch setiap port berfungsi juga sebagai suatu bridge. Jika suatu port terhubung dengan suatu device maka secara prinsipal setiap device akan bersifat independen terhadap device lainnya.

Hub mempunyai kelemahan yaitu akan terus mengulang-ulang sinyal yang berupa paket data ke semua arah (jalur yang ada) walaupun sebenarnya paket data tersebut sudah diterima oleh komputer tujuan, seperti pada gambar 3 (Mansfield, 2003). Hal ini akan menyebabkan frekwensi collision lebih sering terjadi.

Transfer data switch lebih cepat daripada hub karena switch langsung mengirim paket data ke komputer 
tujuan, tidak mengirim ke seluruh port yang ada (broadcast) sehingga bandwidth yang ada pada switch dapat digunakan secara penuh.

Perbedaan lainnya lagi adalah bahwa 10/100 ethernet hub hanya bekerja secara half-duplex, ini artinya adalah sebuah device hanya dapat mengirim atau menerima data pada suatu waktu tertentu. Switch mampu bekerja secara full-duplex yang artinya mampu menerima dan mengirimkan data pada saat yang bersamaan.

Perbedaan mendasar antara switch versus router adalah router menggunakan metode ’store and forward’. Sedangkan switch bekerja dengan cara on the fly switching. Router mengambil seluruh paket sebelum paket tersebut diteruskan ke tujuan. Metode store and forward membawa seluruh frame data ke dalam peralatan, yang kemudian di-buffer untuk dalam sebuah satuan waktu. Akan lebih jelas jika kita memperhatikan TCP/IP layers, seluruh frame header akan melewati layer data link kemudian dibawa ke layer di atasnya yaitu network layer untuk diketahui tipe dari frame nya. Baru kemudian diteruskan ke alamat network yang dituju melalui data link layer kemabli. Proses ini berlaku untuk seluruh frame yang melintas di router.
Lain halnya dengan switch yang hanya mengambil 20 byte pertama dari sebuah frame. Karena switch tidak mengambil seluruh frame, namun hanya pada alamat tujuan (destination address) sebelum meneruskan frame tersebut ke alamat tujuan, maka network latency atau jeda (delay) yang terjadi akan menjadi lebih kecil dibandingkan dengan router.

Perbedaan yang paling mendasar antara Router, Switch dan Hub adalah sebagai berikut :
➢ Router = kerja di layer 3 osi (network)
➢ Switch = kerja di layer 2 osi (datalink)
➢ Hub= kerja di layer 1 osi (fisik)
Read More..

Kamis, 05 April 2012

Setting Access List

Router Access List


Dalam jaringan kita mengenal adanya router , router berfungsi untuk mengatur keluar masuknya data atau perpindahan data dalam jaringan itu sendiri.
dan untuk mengendalikan keamanan didalam jaringan router , maka digunakan access list .



Mengendalikan jaringan dengan access list 


Piranti Router mengendalikan keamanan jaringan dengan menggunakan access lists. Suatu access list menerangkan karakteristik traffic jaringan seperti asal dan tujuan IP address dan juga protocol. Kita bisa mengendalikan jenis traffic yang dikirim atau diterima oleh router dengan jalan membuat access list dan di terapkan kepada interface router. access list menjelaskan jenis traffic yang bisa diterima atau diteruskan oleh sebuah interface dari router.


Router access list


Piranti router menggunakan access list untuk mengendalikan traffic keluar masuk dengan karakteristik berikut:
  • Access list menrangkan jenis traffic yang akan dikendalikan
  • Entry access list menjelaskan karakteristic traffic
  • Entry access list menunjukkan apakah mengijinkan atau menolak traffic
  • Entry access list dapat menjelaskan suatu jenis traffic khusus, mengijinkan atau menolak semua traffic
  • Saat dibuat, suatu access list mengandung entry secara implicit “deny all”
  • Setiap access list diterapkan pada hanya sebuah protocol khusus saja
  • Setiap interface router dapat memuat hanya sampai dua access list saja untuk setiap protocol, satu untuk traffic masuk dan satu untuk traffic keluar.
  • Saat suatu access list dikenakan pada suatu interface, dia mengidentifikasikan apakah list melarang traffic masuk atau traffic keluar
  • Access list ada secara global pada router, akan tetapi filter traffic hanya ada pada interface dimana dia diterapkan.
  • Setiap access list bisa diterapkan pada lebih dari satu interface akan tetapi, setiap access list hanya mempunyai list masuk atau keluar saja.
  • Basic /standard access list membatasi traffic di hampir kebanyakan karakteristic traffic (seperti protocol tertentu dalam suatu suite)


Catatan bahwa ketika kita membuat access list, maka secara automatis akan mengandung statement “deny all”, walaupun statement ini tidak kelihatan dalam list itu sendiri. Agar suatu list bisa mengijinkan suatu traffic, maka harus ada setidaknya satu statement permit, baik mengijinkan suatu jenis traffic khusus atau mengijinkan semua jenis traffic yang tidak dibatasi secara specific.

Adanya access list yang berbeda tergantung pada jenis protocol. Tanpa memandang protocol, gunakan langkah umum berikut ini untuk membuat dan mengimplementasikan access list.
  1. Pada global configuration mode, buatlah list dan tambahkan entry access list dengan command “access-list”
  2. Pada interface mode, applikasikan access list tertentu pada suatu interface yang secara umum menggunakan “access-group” command.
Access list diidentifikasikan dengan nomor, walaupun bisa saja menggunakan suatu nama. Nomor tersebut bukan saja menunjukkan suatu access list tertentu, akan tetapi juga mengidentifikasikan karakteristic berikut juga:
  • Protocol suite
  • Menunjukkan apakah list tersebut standard atau extende access list


Rentang penomoran telah dibangun untuk setiap jenis protocol, baik standard maupun extended.

Kisaran nomor access list

Kita mesti bisa menghafalkan rentang nomor berikut baik untuk mengidentifikasikan atau membuat access list.
Rentang nomor
List type
0-99
Regular IP list
100-199
Extended IP list
800-899
Regular IPX list
900-999
Extended IPX list
1000-1099
SAP list
Untuk mengetahui list kisaran nomor access list, ketik access-list ? pada command prompt router.

Konfigurasi IP Access Lists




Saat membuat suatu IP access list, kita dapat membuat baik standard ataupun extended access list. Berikut ini perbandingan dua jenis list.
Gunakan suatu standard list untuk memfilter hostname asal atau IP address host
Gunakan extended access list untuk memfilter:
  • Source IP protocol (IP, TCP, UDP, dll)
  • Source hostname atau host IP address
  • Source atau tujuan socket number
  • Host name atau host IP address tujuan
  • Awalan atau nilai kondisi
Standard IP access lists
  • Filter pada source address
  • Log events (optional)

Membuat suatu standard IP access list

Perlu diingat bahwa untuk standard access list gunakan rentang nomor antara 1-99. Untuk membuat standard access list, proses berikut merupakan cara kebanyakan access list standard dibuat.
Buat list dengan menambahkan entry dengan command “access-list”, pada contoh berikut ini melewatkan semua traffic keluar dari semua IP address kecuali traffic dari network 10.0.0.0, dan list diterapkan pada interface Ethernet E0
Router (config) #access-list 1 deny 10.0.0.0 0.255.255.255
Router (config) #access-list 1 permit any
Router (config) #int e0
Router (config-if) #ip access-group 1 out
Pada contoh berikut membuat sebuah standard IP access list yang menolak semua traffic kecuali traffic dari host 10.12.12.16, dan diterapkan pada interface Serial 0
Router (config) #access-list 2 permit 10.12.12.16
Router (config) # int s0
Router (config-if) #ip access-group 2 in



Perlu diingat bahwa setiap access l ist mengandung suatu entry “deny any” secara explicit. Saat dibuat, access list “deny any” semua traffic kecuali traffic yang secara explicit di ijinkan oleh suatu statement “permit” dalam list.
Extended IP access lists (standard capabilities plus)
  • Filter pada protocol
  • Filter pada address tujuan
  • Filter pada port number (baik tujuan maupun asal)
Perlu diingat bahwa extended IP access list diberikan nomor antara 100 dan 199
Pada contoh berikut adalah list extended access list yang menolak semua packet dari host 10.1.1.1 yang dikirim ke host 15.1.1.1 dan diterapkan pada interface serial kedua S1
Router (config) #access-list 101 permit ip any any
Router (config) #access-list 101 deny ip 10.1.1.1 0.0.0.0 15.1.1.1 0.0.0.0
Router (config) #int s1
Router (config-if) # ip access-group 101 in
Pada contoh berikut suatu extended access list dibuat yang tidak melewatkan packet TCP dari semua host pada jaringan 10.0.0.0 menuju jaringan 11.12.0.0, dan diterapkan pada suatu interface serial pertama S0
Router (config-if) #access-list 111 permit ip any any
Router (config-if) #access-list 111 deny tcp 10.0.0.0 0.255.255.255 11.12.0.0 0.0.255.255
Router (config)#int s0
Router (config-if)# ip access-group 111 in
Perlu dicatat bahwa kita hanya mempunyai satu IP access list incoming / outgoing untuk masing-masing interface.
Command berikut adalah ringkasan command untuk digunakan melihat informasi access list tertentu pada router.

Jika ingin melihat
Gunakan command berikut
Semua access list yang ada pada router
Show run
Show access-list
Semua access list yang diteapkan pada suatu interface
Show ip int
Show run
Semua informasi traffic yang ditolak
Show log
IP access list yang dikonfigurasikan pada router
Show run
Show ip access-lists
IPX access list yang dikonfigurasikan pada router
Show run
Show ipx access-lists
Read More..

ADDRESS RESOLUTION PROTOCOL ( ARP )


ADDRESS RESOLUTION PROTOCOL (ARP)

Untuk keperluan mapping IP address ke Alamat Ethernet  maka di buat protokol ARP (Address Resolution Protocol). Proses mapping ini dilakukan hanya untuk datagram yaang dikirim host karena pada saat inilah host menambahkan header Ethernet pada datagram. Penerjemahan dari IP address ke alamat Ethernet dilakukan dengan melihat sebuah tabel yang disebut sebagai cache ARP, lihat tabel 1. Entri cache ARP berisi IP address host beserta alamat Ethernet untuk host tersebut. Tabel ini diperlukan karena tidak ada hubungan sama sekali antara IP address dengan alamat Ethernet. IP address suatu host bergantung pada IP address jaringan tempat host tersebut berada, sementara alamat Ethernet sebuah card bergantung pada alamat yang diberikan oleh pembuatnya.
Tabel  Cache ARP
IP address
Alamat Ethernet
132.96.11.1
0:80:48:e3:d2:69
132.96.11.2
0:80:ad:17:96:34
132.96.11.3
0:20:4c:30:29:29

          Mekanisme penterjemahan oleh ARP dapat dijelaskan sebagai berikut. Misal suatu host A dengan IP address  132.96.11.1 baru dinyalakan, lihat Gambar 1. Pada saat awal, host ini hanya mengetahui informasi mengenai interface-nya sendiri, yaitu IP address, alamat network, alamat broadcast dan alamat ethernet. Dari informasi awal ini, host A tidak mengetahui alamat ethernet host lain yang terletak satu network dengannya (cache ARP hanya berisi satu entri, yaitu host A). Jika host memiliki route default, maka entri yang pertama kali dicari oleh ARP adalah router default tersebut.
            Misalkan terdapat datagram IP dari host A yang ditujukan kepada host B yanng memiliki IP 132.96.11.2 (host B ini terletak satu subnet dengan host A). Saat ini yang diketahui oleh host A adalah IP address host B tetapi alamat ethernet B belum diketahui.


Gambar cache ARP awal



 Agar dapat mengirimkan datagram ke host B, host A perlu mengisi cache ARP dengan entri host B. Karena cache ARP tidak dapat digunakan untuk menerjemahkan IP address host BB menjadi alamat Ethernet, maka host A harus melakukan dua hal yaitu :
Ø  Mengirimkan paket ARP request pada seluruh host di network menggunakan alamat broadcast Ethernet (FF:FF:FF:FF:FF:FF) untuk meminta jawaban ARP dari host B, lihat gambar 2.
Ø  Menempatkan datagram IP yang hendak dikirim dalam antrian.

Paket ARP request yang dikirim host A kira-kira berbunyi “Jika IP address-mu adalah 132.96.11.2, mohon beritahu alamat Ethernet-mu”. Karena paket ARP request dikirim ke alamat broadcast Ethernet, setiap interface Ethernet komputer yang ada dalam satu subnet (jaringan) dapat mendengarnya. Setiap host dalam jaringan tersebut kemudian memeriksa apakah IP addressnya sama dengan IP address yang diminta oleh host A.

Gambar  Paket ARP request



Host B yang mengetahui bahwa yang diminta oleh host A adalah IP address yang dimilikinya langsung memberikan jawaban dengan mengirimkan paket ARP response langsung ke alamat ethernet pengirim (host A), seperti terlihat pada gambar 3. Paket ARP request tersebut kira-kira berbunyi “IP address 132.96.11.2 adalah milik saya, sekarang saya berikan alamat ethernet saya”.

  
Gambar Paket ARP response



  Paket ARP request dari host B tersebut diterima oleh host A dan host A kemudian menambahkan entri IP addresss host B beserta alamat Ethernet-nya ke dalam cache ARP, lihat gambar 4.

Gambar  Cache ARP setelah penambahan entri host B


Saat ini host A telah memiliki entri untuk host B di tabel cache ARP, dengan demikian datagram IP yang semula dimasukkan ke dalam antrian dapat diberi header Ethernet dan dikirim ke host B.
Secara ringkas proses ARP adalah:
1.     Host mengirimkan paker ARP request dengan alamat broadcast Etehrnet.
2.     Datagram IP  yang dikirim dimasukkan ke dalam antrian.
3.     Paket ARP respon diterima host dan host mengisi tabel ARP dengan entri baru.
4.     Datagram IP yang terletak dalam antrian diberi header Ethernet.
5.     Host mengirimkan frame Ethernet ke jaringan.

Setiap data ARP yang diperoleh disimpan dalam tabel cache ARP dan cache ini diburi umur. Setiap umur entri tersebut terlampaui, entri ARP dihapus dari tabel dan untuk mengisi tabel. Jika host akan mengirimkan datagram ke host yang sudah dihapus dari cache ARP, host kembali perlu melakukan langkah-langkah diatas. Dengan cara ini dimungkinkan terjadinya perubahan isi cache ARP yang dapat menunjukkan dinamika jaringan. Jika sebuat host di jaringan dimatikan, maka selang beberapa saat kemudian entri ARP untuk host tersebut dihapus karena kadaluarsa. Jika card ethernetnya diganti, maka beberapa saat kemudian entri ARP host berubah dengan informasi alamat ethernet yang baru.
Read More..